5 LANGKAH KILAT JADI PENGUSAHA PDF Cetak E-mail
*
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
(57 votes)
Penilaian Pengguna: / 57
BurukTerbaik
ImageSiapa bilang jadi pengusaha sukar? Sama halnya seperti berenang dan menyetir. Sekali kita bisa, kita tak akan lupa. Masalahnya banyak orang yang belum "tuntas" belajarnya, sudah berhenti dan berkata "Bisnis itu susah, resiko". Berikut adalah 5 langkah kilat jadi pengusaha, yang sudah terbukti menghasilkan banyak pengusaha sukses. Tanpa banyak teori!
1. Hitung Untungnya
Kenapa kebanyakan orang tidak memiliki keberanian memulai usaha? Survey membuktikan, mayoritas orang menghitung resiko-resiko jika mereka membuka usaha dan kerugian yang akan dialaminya. Mereka mendengarkan kabar angin tentang usaha sejenis milik kenalannya yang bangkrut. Ataupun mereka menghitung BEP (balik modal) yang terlalu lama. Anehnya semua analisa tersebut dibuat oleh mereka sendiri, dihitung sendiri dan ditakuti sendiri. Seperti kawan saya yang akan membuka bengkel ganti oli, dia membuat perencanaan kerja. Tidak ada yang salah dengan perencanaan kerja lho, itu harus. Tapi, dalam perhitungannya dia menggunakan sistim perhitungan maju atau dari awal buka sampai brapa keuntungan yang akan didapat. Apakah anda seperti itu juga? Tidak salah juga. Ternyata setelah dihitung, dengan asumsi jumlah mobil yang ganti oli 20 perhari, tidak mencukupi untuk menutup operasional, seperti sewa tempat gaji, listrik dan sebagainya. Buntutnya, gak jadi usaha!
Coba kalo ngitungnya mundur, "Berapa untung yang anda inginkan?". Kemudian disusul dengan, "Bagaimana supaya bisa untung segitu?". Nah, dari situ kita mendapatkan langkah-langkahnya. Yuk, kita ambil contoh usaha bengkel tadi? Berapa tahun BEPnya jika anda hitung maju atau dari belakang? Ternyata 5 tahun. Kok lama ya? Knapa gak dibuat 5 bulan aja? Atau 5 minggu? bahkan 5 hari! Mana mungkin? Coba dibalik, "Bagaimana bisa mungkin?". Jika kita selalu manghitung ruginya atau untungnya kelamaan, kita jadi tidak termotivasi untuk mulai. Jadi dengan menghitung untungnya lebih cepat, kita akan semangat untuk mulai.
Tapi bagaimana jika tidak seperti yang kita perhitungkan? Maka, ciptakan target atau harapan baru. Toh, jika anda hitung ruginya, juga belum tentu tepat, benar gak? Trus, ngapain nakut-nakutin diri sendiri dengan kerugian?! Kecuali, usaha tersebut bukan usaha yang pertama, maka patut kita rencanakan dengan matang.
Jadi boleh gak mulai usaha dengan banyak menghitung ruginya? Boleh! Hitung ruginya, jika anda tidak mulai usaha secepatnya. Misalnya, gimana jika di PHK sebelum ada usaha? Gimana jika tidak dibuka usahanya, kemudian keburu dibuka orang lain? Gimana kalo ternyata usahanya booming, sedangkan kita gak jadi buka usaha karena banyak ngitung? Rugi kan?
Maka dari itu, jika mau jadi pengusaha, banyaklah berfikir optimis (tapi realistis), banyak hitung untungnya, jangan banyak hitung ruginya.
2. Ciptakan The Power of Kepepet
Beberapa orang sukses karena mereka punya visi yang sangat jelas, tapi lebih banyak orang sukses dari kepepet. Memang seperti itu hukumnya. Nenek-nenekpun bisa loncat pagar setinggi 3 meter saat kepepet. Masih ingat saat-saat sekolah dulu? Kita kenal istilah SKS=sistem kebut semalam. Karena besok ujian, otak kita akan kita pacu lebih cerdas. Gimana aktualisasinya dalam bisnis? Anda bisa memberi Dp/uang muka tempat usaha anda kelak. Terima order juga membuat anda terpacu. Ceritakan ke banyak orang tentang usaha yang akan anda buka, beritahu tanggalnya! Sehingga setiap kali ketemu kawan anda, dia akan mengingatkan anda. Resign dari tempat kerja dan full time menjalankan usaha sendiri.
Daya ungkit kepepet berarti membakar jembatan terhadap segala sesuatu kemungkinan untuk mundur. Pokoknya Bagaimana Harus Mulai Usaha Secepatnya!
Target-Rencana-Jerumuskan
3. Mulai dari ATM
Pertanyaan yang paling sering dilontarkan oleh orang yang mau mulai usaha adalah "mulai dari mana?" Misalnya anda sudah memiliki ide usaha, membuka manicure&pedicure(m&p), salon perawatan kaki&kuku yang sekarang lagi tren. Dari mana anda mulai? Dari mana anda biasa berlangganan atau mana salon m&p yang paling terkenal?
Coba AMATI bagaimana mereka menjalankan bisnis. Anda bisa mulai dengan berpura-pura menjadi pelanggan, tanyakan segala macam perawatan yang mereka sediakan. Minta brosur jika ada. Jika memungkinkan, temuin yang punya, karena dialah yang paling tahu detailnya. Siapa saja pelanggan tetapnya? Berapa omsetnya satu bulan? Kenapa dia memutuskan membuka m&p, kok nggak bisnis yang lain? Tulis detail pengamatan anda, jangan hanya disimpan di memori otak. Cara yang lain untuk mendapatkan informasi dengan murah adalah lewat Internet/web. Anda tinggal masuk ke search engine seperti www.google.com atau www.yahoo.com. Sangat mudah sekali, cukup ketik subyek yg ingin anda cari, misal: manicure pedicure. Sekejap mata akan keluar list web yg berhubungan dengan m&p. Saya juga menggunakan cara yang sama untuk mendapatkan info bisnis.
Langkah selanjutnya adalah menyusun rencana bisnis untuk membuka yang m&p serupa. Bisa anda susun dari hasil survey anda, atau juga bisa 'TIRU' dari bisnis serupa yang di-franchise-kan, melalui web juga. Jika di hari gini masih bilang 'gaptek', ya jangan berharap bisa bertahan bisnisnya. Wong supir saya aja pun bisa main internet. Enaknya kalo bisnis, nyontek itu diijinkan asal tidak berhubungan dengan hak paten.
Langkah terakhir adalah memoles apa yang sudah ada. Menambahkan unsur differensiasi(perbedaan)nya, menambahkan keunggulan produk/servis kita dibanding salon lain. Differensiasi bisa di produknya, misalnya dengan memberi kualitas yang lebih baik, harga terjangkau. Atau di servisnya yang ditambah, misal ada gratis poles kuku 1 kali. Bisa juga di atmosphere(suasananya), dengan menampilkan interior dan seragam yang khas keraton, seolah-olah seperti 'ratu' yang sedang dirawat, lengkap dengan aroma terapinya. Gimana kalo udah ada yang melakukan itu? Tinggal tergantung dari kreatifitas kita aja. Kalo yang lain pake baju keraton, tempat kita pake baju Jepang, interiornya juga khas Jepang. So simple! Modifikasi juga bisa dilakukan sambil berjalan. Tidak perlu sempurna saat memulai, tapi menyempurnakan setelah dimulai.
What next? Tinggal dibuka saja usahanya. Sebaik-baik rencana, adalah yang dijalankan, bukan cuman teori. Seperti seorang kawan yang bertanya, "Bagusan mana buka bisnis A atau B?" Saya jawab,"Bagus yang cepat dibuka, bukan cuman ditanyakan!" Kalo anda bimbang memilih bisnis yang cocok, tulis aja di kertas kecil, satu-persatu ide usaha anda. Kemudian gulung & masukan ke kaleng, kocok dan ambil seperti narik arisan. Yang ditarik itu yang cocok untuk anda. Daripada mati penasaran karena tidak pernah mulai, mendingan mulai walau terjatuh. Setidaknya kita belajar sesuatu. Betul apa betul?
4. Pakai Dongkrak
Masih ingat cerita David(Nabi Daud)&Goliath? Dimana David menggunakan katapel untuk menyerang raksasa Goliath. Atau contoh lain, saat ban mobil anda bocor. Anda menggunakan dongkrak untuk mengangkat mobil yang ratusan kilo beratnya. Jika kita menggunakan tenaga kita saja untuk mengangkat mobil, jelas hal yang mustahil. Jadi fungsi dongkrak adalah membuat sesuatu yang berat jadi ringan, sesuatu yang tidak mungkin jadi mungkin. Begitu juga dalam bisnis, kalo mau berkembang cepat, ya pake dongkrak. Misalnya, bagaimana cara menjual donat 10000 buah perhari? Jika kita menjual seorang diri dan hanya mengandalkan orang datang membeli, ya mustahil. Tapi jika kita membentuk armada penjualan, ya jelas memungkinkan terjual.
Dongkrak atau daya ungkit dalam bisnis banyak macamnya. Tapi yang sering kita pakai adalah daya ungkit JARINGAN, daya ungkit UANG orang lain dan daya ungkit MINDSET. Jaringan, bisa berarti karyawan atau jaringan didalam perusahaan kita, bisa juga relasi bisnis. Semakin banyak tim (yang bisa diandalkan), semakin ringanlah tugas kita. Semakin banyak relasi bisnis kita, maka akan semakin cepat bisnis kita berkembang. Kok bisa? Bayangkan seandainya anda membuka usaha kontraktor di suatu kota yang sama sekali baru bagi anda. Tidak ada orang yang anda kenal. Semuanya mulai dari nol. How? Apakah usaha anda akan berkembang pesat? Sukar! Karena langkah pertama, anda harus mencari kenalan dulu (membentuk jaringan). Tapi bagaimana jika anda mengenal (dan dipercaya) oleh 10.000 orang di kota itu? Pasti lebih mudah dan cepat bagi bisnis anda untuk berkembang. Ilustrasinya, peluang itu selalu ada, tapi tidak selalu ditangan kita. Seringkali, peluang terpegang oleh tangan orang lain yang mengenal kita. Mungkin orang itu tidak membutuhkan peluang itu, tapi dia bisa mereferensikan peluang itu masuk ke kantong kita.
Tentu saja semuanya dimulai dari 'Rekening Kehidupan' yang kita tanam. Seberapa banyak bibit manfaat yang telah kita sebarkan ke orang lain tanpa pamrih. Sebanyak itulah jaringan kita yang bisa diandalkan.
Daya ungkit Uang orang lain sangat berguna untuk membesarkan usaha kita. Seringkali kita kepentok masalah modal, saat bisnis kita berkembang. Sebenarnya itu tanda-tanda kehidupan bisnis kita. Semua bisnis akan mengalami fase-fase seperti itu, kalo perkembangannya cepat. Masalahnya, kita masih berfikir bahwa bisnis harus pakai uang sendiri atau pemerintah. Ntah kenapa pemerintah selalu kena getahnya saat bisnis kita memerlukan modal. Wong pada saat membuka, pemerintah juga gak maksa. Mungkin jiwa kemandirian atau entrepreneurship itulah yang belum tertanam di bangsa ini. Kenapa tidak menggunakan duit (kerjasama) saudara, mertua, teman ataupun Bank. "Wah, susah pak pinjam di Bank, prosedurnya berbelit! Teman dan saudara juga paling gak mau." Nah, inilah gunanya daya ungkit yang ketiga, MINDSET ! Jika kita berfikir bisa atau tidak bisa, maka kedua-duanya benar. Jadi mana yang akan kita 'set' di otak kita? Selalu berfikir Bisa atau Tidak bisa?
5. Ngeyel dengan Strategi
Inilah jurus PAMUNGKAS dalam dunia usaha. Seperti seorang anak kecil yang belajar berjalan. Dimulai dari merangkak, dia berusaha meniru bagaimana ibu bapanya bisa berdiri, diapun belajar berdiri. Kadang kakinya yang belum ‘terbiasa’ dilatih untuk terbiasa berdiri. Setelah bisa berdiri, selangkah demi selangkah, si anak mulai belajar berjalan. Apakah langsung lancar? Impossible, kecuali bayi ajaib. Nah, apa yang terjadi? Dia mulai terjatuh, tapi dia bangun lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. Pertanyaan saya, “Sampai berapa kali seorang ibu/bapak akan memberi kesempatan kepada si anak untuk belajar berjalan, sampai akhirnya menyerah? 5kali, 10kali, 100kali, 1000kali, atau…..? Pasti semua menjawab,”SAMPAI BISA BERJALAN”. Oleh sebab itu kita bisa melihat semua orang normal berjalan di muka bumi ini. Inilah FORMULA AJAIB untuk sukses.
Sekarang, “Berapa kali anda akan memberikan kesempatan kepada diri anda untuk menjadi PENGUSAHA SUKSES, sehingga akhirnya anda menyerah?!”. Dengan analogi yang sama, tentu saja SAMPAI BISA SUKSES! Tentu saja bukan sekedar ‘Ngeyel buta’, tapi NGEYEL dengan strategi. Tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ubah metodenya jika gagal. Cari jalan lain, lurus buntu, belok kanan, belok kiri, loncat keatas, buat terowongan, bahkan jika sudah mentok, ganti usahanya, untuk mengembalikan momentum.
Rejeki adalah suatu misteri, kadang kita mendapatkan di langkah ke 10, kadang kita baru mendapatkan di langkah ke 100. Trus, bagaimana kita mensikapi agar tidak down mental kita? Tetap OPTIMIS, ciptakan harapan-harapan baru, setiap kali kita gagal. Katakan pada diri anda, kurang 10 langkah lagi FINISH. Katakan seperti itu, setiap kali anda akan menyerah. Fokus ke Impian anda, bukan penolakan atau kegagalan! Dan camkan bahwa:
Tidak ada kegagalan, yang ada hanyalah PEMBELAJARAN
Pasti ada celahnya dalam bisnis. Jika seorang pebisnis tidak memiliki masalah, artinya bisnisnya tidak jalan. Masalah bukan untuk ditakuti, tapi dihadapi. Saya teringat saat-saat saya dalam kondisi minus, saya katakan kepada diri saya, “Jaya, inilah HARGA yang harus kamu bayar untuk menjadi sukses. Jalan terus, tatap ke depan, kesuksesanmu sudah didepan mata. Semua orang sukses mengalami hal yang serupa!” Sambil mengingat orang-orang yang saya cintai. NEVER, NEVER, NEVER GIVE UP!
FIGHT!
Jaya Setiabudi
Director Y.E.A
Coach Entrepreneur Camp
Pendiri Entrepreneur Association
Email : masj@fone-mail.comAlamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Hp : 0819 818 919
BLAZER TRENDY DAN DINAMIS
Baju Trendi Perempuan
Kamis, 24 September 2009
SUKSES BERPOLA, GAGAL JUGA BERPOLA PDF Cetak E-mail
*
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
(7 votes)
Penilaian Pengguna: / 7
BurukTerbaik
ImageSaat pertama kali bergabung di salah satu anak perusahaan Astra di Batam, saya dan teman-teman satu batch (angkatan), harus melewati masa training. Di akhir sesi training kita selama 3 bulan lamanya, kita diwajibkan untuk membuat studi kasus yang harus diselesaikan menggunakan metode Practical Problem Solving (PPS).
Permasalahan yang timbul adalah, kami diwajibkan presentasi menggunakan metode PPS dalam bahasa inggris. Review presentasi dilakukan sebanyak 4 kali, sampai akhirnya final presentation di depan COO (Chief Operational Officer) yang notabene orang “bule”. Celakanya, bahasa inggris saya saat itu amburadul dan super tidak lancar. Untuk menutupi “ketidak lancaran” saya setiap presentasi dalam bahasa inggris, saya berdalih menyalahkan metode PPS yang tidak up to date.
Suatu saat, sepulang dari tempat kerja, saya menyambangi kawan satu batch saya, Fajar namanya. Di kamar mess (rumah dinas) Fajar, saya menggerutu tentang kelemahan-kelemahan metode PPS dan tidak adanya manfaat yang didapat dari materi tersebut. Awalnya Fajar hanya mendengar sambil melirikkan matanya dari bawah keatas. Tiba-tiba dia memotong omongan saya dengan nada serius,”Yak (panggilan akrab saya), menurut aku, kamu itu tipe orang yang suka excuse terhadap sesuatu yang kamu tidak mampu. Kamu tidak berusaha membuat dirimu mampu. Orang kayak kamu itu, biasanya tidak pernah nomor satu!”
Wow wow wow, saya hanya terdiam sejenak dengan muka merah terbakar omongan kawan baik saya. Sayapun bertanya dengan nada tinggi,”maksudmu?!”. Fajarpun menjawab dengan sangat jelas,”Sebetulnya bukan metode PPS-nya yang kurang, tapi aku tahu kamu punya kekurangan tidak lancar berbahasa inggris. Dari situ kamu membuat dalih untuk menutupi kekuranganmu!”. Tanpa bicara lagi, dengan muka masam, saya meninggalkan mess Fajar, yang jaraknya hanya satu gang dari mess saya. Malam hari itu darah saya naik ke kepala, rasanya ingin marah besar, karena belum pernah ada orang yang mengkritik saya setajam itu. Saya merenung memikirkan kembali setiap perkataan Fajar,”….orang kayak kamu itu, biasanya tidak pernah nomor satu!”. Saya flashback ke masa lalu saya, ternyata benar apa yang dikatakan Fajar, memang SAYA TIDAK PERNAH NOMOR SATU. Setelah menganalisa kembali apa yang menyebabkan saya tidak pernah nomor satu? Padahal saya terhitung pekerja keras dan gigih. Ternyata kuncinya ada di kata-kata Fajar,”…kamu itu tipe orang yang suka membuat EXCUSE terhadap sesuatu yang kamu tidak mampu. "Kamu tidak berusaha membuat dirimu mampu!”. Exactly, itulah diri saya di masa lalu. You woke me up, my friend! Sejak malam itu saya berikrar,”Saya akan menjadi yang terbaik di manapun saya berada dan di bidang yang saya tekuni!”
Belajar dari pengalaman saya dan orang lain, saya menyimpulkan bahwa ada POLA SUKSES dan POLA GAGAL. Tuhan telah menciptakan manusia dengan mekanisme serba otomatis. Orang-orang yang gagal dalam kehidupannya, dia memiliki pola gagal yang berulang. Begitu juga orang yang sukses, memiliki pola sukses yang berulang. Apapun deskripsi Anda tentang sukses, amatilah orang yang menurut Anda suskses dan gagal, perhatikan polanya. Saat saya memutuskan untuk mengubah nasib saya, saya mengubah pola saya yang lama, seperti tidak disiplin, banyak alasan, cepat menyerah, tidak tuntas dalam kerja, juga ketidak beranian mengambil resiko. Apa pola gagal Anda? Simple, hanya dibalik saja dan sukseslah Anda.
FIGHT!
Jaya Setiabudi
Director Y.E.A
Coach Entrepreneur Camp
Pendiri Entrepreneur Association
Email : masj@fone-mail.comAlamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Hp : 0819 818 919
*
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
(7 votes)
Penilaian Pengguna: / 7
BurukTerbaik
ImageSaat pertama kali bergabung di salah satu anak perusahaan Astra di Batam, saya dan teman-teman satu batch (angkatan), harus melewati masa training. Di akhir sesi training kita selama 3 bulan lamanya, kita diwajibkan untuk membuat studi kasus yang harus diselesaikan menggunakan metode Practical Problem Solving (PPS).
Permasalahan yang timbul adalah, kami diwajibkan presentasi menggunakan metode PPS dalam bahasa inggris. Review presentasi dilakukan sebanyak 4 kali, sampai akhirnya final presentation di depan COO (Chief Operational Officer) yang notabene orang “bule”. Celakanya, bahasa inggris saya saat itu amburadul dan super tidak lancar. Untuk menutupi “ketidak lancaran” saya setiap presentasi dalam bahasa inggris, saya berdalih menyalahkan metode PPS yang tidak up to date.
Suatu saat, sepulang dari tempat kerja, saya menyambangi kawan satu batch saya, Fajar namanya. Di kamar mess (rumah dinas) Fajar, saya menggerutu tentang kelemahan-kelemahan metode PPS dan tidak adanya manfaat yang didapat dari materi tersebut. Awalnya Fajar hanya mendengar sambil melirikkan matanya dari bawah keatas. Tiba-tiba dia memotong omongan saya dengan nada serius,”Yak (panggilan akrab saya), menurut aku, kamu itu tipe orang yang suka excuse terhadap sesuatu yang kamu tidak mampu. Kamu tidak berusaha membuat dirimu mampu. Orang kayak kamu itu, biasanya tidak pernah nomor satu!”
Wow wow wow, saya hanya terdiam sejenak dengan muka merah terbakar omongan kawan baik saya. Sayapun bertanya dengan nada tinggi,”maksudmu?!”. Fajarpun menjawab dengan sangat jelas,”Sebetulnya bukan metode PPS-nya yang kurang, tapi aku tahu kamu punya kekurangan tidak lancar berbahasa inggris. Dari situ kamu membuat dalih untuk menutupi kekuranganmu!”. Tanpa bicara lagi, dengan muka masam, saya meninggalkan mess Fajar, yang jaraknya hanya satu gang dari mess saya. Malam hari itu darah saya naik ke kepala, rasanya ingin marah besar, karena belum pernah ada orang yang mengkritik saya setajam itu. Saya merenung memikirkan kembali setiap perkataan Fajar,”….orang kayak kamu itu, biasanya tidak pernah nomor satu!”. Saya flashback ke masa lalu saya, ternyata benar apa yang dikatakan Fajar, memang SAYA TIDAK PERNAH NOMOR SATU. Setelah menganalisa kembali apa yang menyebabkan saya tidak pernah nomor satu? Padahal saya terhitung pekerja keras dan gigih. Ternyata kuncinya ada di kata-kata Fajar,”…kamu itu tipe orang yang suka membuat EXCUSE terhadap sesuatu yang kamu tidak mampu. "Kamu tidak berusaha membuat dirimu mampu!”. Exactly, itulah diri saya di masa lalu. You woke me up, my friend! Sejak malam itu saya berikrar,”Saya akan menjadi yang terbaik di manapun saya berada dan di bidang yang saya tekuni!”
Belajar dari pengalaman saya dan orang lain, saya menyimpulkan bahwa ada POLA SUKSES dan POLA GAGAL. Tuhan telah menciptakan manusia dengan mekanisme serba otomatis. Orang-orang yang gagal dalam kehidupannya, dia memiliki pola gagal yang berulang. Begitu juga orang yang sukses, memiliki pola sukses yang berulang. Apapun deskripsi Anda tentang sukses, amatilah orang yang menurut Anda suskses dan gagal, perhatikan polanya. Saat saya memutuskan untuk mengubah nasib saya, saya mengubah pola saya yang lama, seperti tidak disiplin, banyak alasan, cepat menyerah, tidak tuntas dalam kerja, juga ketidak beranian mengambil resiko. Apa pola gagal Anda? Simple, hanya dibalik saja dan sukseslah Anda.
FIGHT!
Jaya Setiabudi
Director Y.E.A
Coach Entrepreneur Camp
Pendiri Entrepreneur Association
Email : masj@fone-mail.comAlamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Hp : 0819 818 919
MENGGAIT CUSTOMER PDF Cetak E-mail
*
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
(8 votes)
Penilaian Pengguna: / 8
BurukTerbaik
ImageOrang bilang, bisnis itu ujung-ujungnya DUIT alias PROFIT, betul? Tolak ukurnya bisa dilihat di Laporan Laba Rugi. Rumus dari penentuan laba/rugi adalah:
Profit = Omset – Harga Pokok – Biaya Operasional – Tax
Sehingga banyak orang terjerembab mengotak-atik biaya operasional dengan berbagai macam efisiensi, demi mendongkrak profit. Tidak Salah! Tapi tak selalu benar. Banyak sekali faktornya. Nah, mari kita menengok dari unsur terdepan dari rumus itu, yaitu.... OMSET.
Jika diurut-urut, omset juga punya rumusnya, yaitu:
OMSET = Jumlah Pelanggan x jumlah transaksi x rata-rata harga jual
Sekarang kita mulai dari ujung awal rumus omset tersebut, yaitu Jumlah Pelanggan. Bagaimana cara mendapatkan pelanggan? Ternyata masih ada rumusnya, he he, bukan ngerjain lho, namun agar lebih memudahkan Anda memahami.
Nih, rumus yang terakhir:
Jumlah Pelanggan = Jumlah Prospek x Nilai Konversi
Yuk sekarang kita bedah dan bagaimana mendapatkan customer yang banyak.
Jumlah Prospek
Pernahkan Anda mengiklankan produk/jasa perusahaan Anda, namun tidak ada atau sedikit yang menelepon untuk menanyakan? Jika ya, berarti iklan tersebut belum efektif. Faktornya bisa banyak hal, antara lain, desainnya yang kurang “eye catching” atau kata-kata headlinenya yang tidak membuat orang tergerak untuk menelepon atau datang. Cara mengukurnya cukup dengan mencatat berapa jumlah prospek customer yang berhasil didapatkan dari pengaruh iklan tersebut. Selain dari iklan, brosur, spanduk, milis atau atribut promosi lainnya, prospek juga bisa didapatkan dari database, misalnya daftar alumni, asosiasi, dan daftar-daftar lainnya.
Keberhasilan Anda memperbesar jumlah prospek, akan menjadi titik terdepan dari perolehan profit kelak. Tips untuk menambah jumlah prospek, pertama gunakan HEAD LINE yang menarik dari iklan Anda. Pandang dari sudut pandang si pembaca, bukan dari sudut pandang Anda. Apa yang membuat mereka tertarik ? Misalnya dengan menggunakan kata-kata : GRATIS, DISKON, DIJAMIN, ANDA, atau bahkan kata JANGAN ! Kedua, tampilkan BENEFIT, sebagai solusi dari permasalahan yang pembaca hadapi, bukannya spesifikasi produk yang bersifat teknis. Ketiga, beri kemudahan atau iming-iming, untuk setidaknya mengkontak Anda, misal dengan kata,”Gratis konsultasi, untuk 10 penelepon pertama...”. Menjaring prospek tidak harus langsung menuju ke produk yang akan dijual, bisa jadi dengan mengadakan suatu event yang mampu membuat mereka berkumpul.
MENGUBAH PROSPEK MENJADI CUSTOMER
Jika ada 100 orang prospek, namun hanya 1 orang saja yang menjadi pelanggan, artinya, nilai konversi Anda adalah 1%. Ada beberapa faktor yang menyebabkan prospek bersedia "switch" menjadi customer. Pertama, karena harga terjangkau. Nah, penerapan di produk Anda, jika harga menjadi hambatan untuk mencoba, kecilkan "timbangan"nya, sehingga dapat menurunkan harga jualnya. Setelah mereka merasa "suka" dengan produk Anda, baru tawarkan size yg besar untuk repeat order. Jika harga tidak dapat diturunkan, maka perbesarlah Value yang ditawarkan. Ingat, pembeli akan puas jika:
VALUE > PRICE
Value bisa berupa benefit (quality) ataupun jumlah (quantity). Namun jangan over promised, karena akan jadi boomerang untuk Anda sendiri. Kedua, kemudahan untuk mendapatkan produk atau "availability". Jika jalur distribusi produk Anda belum merata, pastikan beri kemudahan bagi customer dengan melakukan delivery order. Bukankah customer pengin dimanjakan sebagai raja? Bisa jadi, sebenarnya prospek tertarik untuk membeli produk Anda, namun gara-gara kejauhan, “nggak jadi ah, malas!”. Ketiga, gunakan special offer, termasuk kemudahan pembayaran, seperti cicilan, untuk produk yang berharga tinggi. Bisa juga dengan penawaran diskon, yang membuat orang tergiur untuk membeli. Psikologi penjualan telah membuktikan bahwa orang lebih tergiur untuk membeli dengan harga diskon, dibanding harga pas, meskipun harga jadinya sama. Keempat, display/kemasan yang menarik, menaikkan minat orang untuk membeli. Breadtalk bukanlah roti paling enak, namun membuat orang yang lewat jadi "ngiler" untuk mencoba. Ingat, pembeli semakin bersifat emosional? Bukan hanya produk (content) aja yang dijual, tapi "kemasan" (context) juga sangat mempengaruhi pembeli.
Kelima, yang terpenting,
PELAYANAN!
83% orang penjualan closed, karena pembeli menyukai penjualnya, bukan produknya. Pilihlah orang yang memiliki jiwa pelayanan yang tinggi, sekaligus punya kemampuan untuk menjual. Jika hanya berbekal jiwa pelayanan, produknya tidak laku-laku. Sangat perlu diajarkan "teknik closing". Penjual yang baik, bukannya orang yang pandai "nrocos" (banyak bicara), melainkan pandai membuat "pertanyaan" yang mengarahkan ke penjualan. Untuk itu, diperlukan training penjualan. Sedikit investasi Anda dalam training, asalkan bisa mendongkrak nilai konversi, lebih baik daripada membayar kerugian operasional karena kurangnya order.
Perlu diperhatikan, bahwa pembeli memiliki sensitivitas indera yang berlainan. Jika dia tipe penglihatan, artinya dia akan membeli barang yang memuaskan penglihatannya. Demikan juga dengan tipe pendengaran dan perabaan. Pemilihan kata-kata saat menawarkan ke prospek, intonasi serta bahasa tubuh yang tepat, akan memperbesar prosentase nilai konversi. Jadi, Training, training, training!
Setelah Anda memperhatikan masing-masing “pos” untuk mendongkrak nilai konversi, jangan lupa mengamati hasilnya. Caranya, catat perkembangannya secara berkala, sebelum dan sesudah Anda menerapkan strategy diatas. Ingat, “Segala sesuatu ada ILMUNYA”.
FIGHT! J
Jaya Setiabudi
Director Y.E.A
Coach Entrepreneur Camp
Pendiri Entrepreneur Association
Email : masj@fone-mail.comAlamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Hp : 0819 818 919
*
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
(8 votes)
Penilaian Pengguna: / 8
BurukTerbaik
ImageOrang bilang, bisnis itu ujung-ujungnya DUIT alias PROFIT, betul? Tolak ukurnya bisa dilihat di Laporan Laba Rugi. Rumus dari penentuan laba/rugi adalah:
Profit = Omset – Harga Pokok – Biaya Operasional – Tax
Sehingga banyak orang terjerembab mengotak-atik biaya operasional dengan berbagai macam efisiensi, demi mendongkrak profit. Tidak Salah! Tapi tak selalu benar. Banyak sekali faktornya. Nah, mari kita menengok dari unsur terdepan dari rumus itu, yaitu.... OMSET.
Jika diurut-urut, omset juga punya rumusnya, yaitu:
OMSET = Jumlah Pelanggan x jumlah transaksi x rata-rata harga jual
Sekarang kita mulai dari ujung awal rumus omset tersebut, yaitu Jumlah Pelanggan. Bagaimana cara mendapatkan pelanggan? Ternyata masih ada rumusnya, he he, bukan ngerjain lho, namun agar lebih memudahkan Anda memahami.
Nih, rumus yang terakhir:
Jumlah Pelanggan = Jumlah Prospek x Nilai Konversi
Yuk sekarang kita bedah dan bagaimana mendapatkan customer yang banyak.
Jumlah Prospek
Pernahkan Anda mengiklankan produk/jasa perusahaan Anda, namun tidak ada atau sedikit yang menelepon untuk menanyakan? Jika ya, berarti iklan tersebut belum efektif. Faktornya bisa banyak hal, antara lain, desainnya yang kurang “eye catching” atau kata-kata headlinenya yang tidak membuat orang tergerak untuk menelepon atau datang. Cara mengukurnya cukup dengan mencatat berapa jumlah prospek customer yang berhasil didapatkan dari pengaruh iklan tersebut. Selain dari iklan, brosur, spanduk, milis atau atribut promosi lainnya, prospek juga bisa didapatkan dari database, misalnya daftar alumni, asosiasi, dan daftar-daftar lainnya.
Keberhasilan Anda memperbesar jumlah prospek, akan menjadi titik terdepan dari perolehan profit kelak. Tips untuk menambah jumlah prospek, pertama gunakan HEAD LINE yang menarik dari iklan Anda. Pandang dari sudut pandang si pembaca, bukan dari sudut pandang Anda. Apa yang membuat mereka tertarik ? Misalnya dengan menggunakan kata-kata : GRATIS, DISKON, DIJAMIN, ANDA, atau bahkan kata JANGAN ! Kedua, tampilkan BENEFIT, sebagai solusi dari permasalahan yang pembaca hadapi, bukannya spesifikasi produk yang bersifat teknis. Ketiga, beri kemudahan atau iming-iming, untuk setidaknya mengkontak Anda, misal dengan kata,”Gratis konsultasi, untuk 10 penelepon pertama...”. Menjaring prospek tidak harus langsung menuju ke produk yang akan dijual, bisa jadi dengan mengadakan suatu event yang mampu membuat mereka berkumpul.
MENGUBAH PROSPEK MENJADI CUSTOMER
Jika ada 100 orang prospek, namun hanya 1 orang saja yang menjadi pelanggan, artinya, nilai konversi Anda adalah 1%. Ada beberapa faktor yang menyebabkan prospek bersedia "switch" menjadi customer. Pertama, karena harga terjangkau. Nah, penerapan di produk Anda, jika harga menjadi hambatan untuk mencoba, kecilkan "timbangan"nya, sehingga dapat menurunkan harga jualnya. Setelah mereka merasa "suka" dengan produk Anda, baru tawarkan size yg besar untuk repeat order. Jika harga tidak dapat diturunkan, maka perbesarlah Value yang ditawarkan. Ingat, pembeli akan puas jika:
VALUE > PRICE
Value bisa berupa benefit (quality) ataupun jumlah (quantity). Namun jangan over promised, karena akan jadi boomerang untuk Anda sendiri. Kedua, kemudahan untuk mendapatkan produk atau "availability". Jika jalur distribusi produk Anda belum merata, pastikan beri kemudahan bagi customer dengan melakukan delivery order. Bukankah customer pengin dimanjakan sebagai raja? Bisa jadi, sebenarnya prospek tertarik untuk membeli produk Anda, namun gara-gara kejauhan, “nggak jadi ah, malas!”. Ketiga, gunakan special offer, termasuk kemudahan pembayaran, seperti cicilan, untuk produk yang berharga tinggi. Bisa juga dengan penawaran diskon, yang membuat orang tergiur untuk membeli. Psikologi penjualan telah membuktikan bahwa orang lebih tergiur untuk membeli dengan harga diskon, dibanding harga pas, meskipun harga jadinya sama. Keempat, display/kemasan yang menarik, menaikkan minat orang untuk membeli. Breadtalk bukanlah roti paling enak, namun membuat orang yang lewat jadi "ngiler" untuk mencoba. Ingat, pembeli semakin bersifat emosional? Bukan hanya produk (content) aja yang dijual, tapi "kemasan" (context) juga sangat mempengaruhi pembeli.
Kelima, yang terpenting,
PELAYANAN!
83% orang penjualan closed, karena pembeli menyukai penjualnya, bukan produknya. Pilihlah orang yang memiliki jiwa pelayanan yang tinggi, sekaligus punya kemampuan untuk menjual. Jika hanya berbekal jiwa pelayanan, produknya tidak laku-laku. Sangat perlu diajarkan "teknik closing". Penjual yang baik, bukannya orang yang pandai "nrocos" (banyak bicara), melainkan pandai membuat "pertanyaan" yang mengarahkan ke penjualan. Untuk itu, diperlukan training penjualan. Sedikit investasi Anda dalam training, asalkan bisa mendongkrak nilai konversi, lebih baik daripada membayar kerugian operasional karena kurangnya order.
Perlu diperhatikan, bahwa pembeli memiliki sensitivitas indera yang berlainan. Jika dia tipe penglihatan, artinya dia akan membeli barang yang memuaskan penglihatannya. Demikan juga dengan tipe pendengaran dan perabaan. Pemilihan kata-kata saat menawarkan ke prospek, intonasi serta bahasa tubuh yang tepat, akan memperbesar prosentase nilai konversi. Jadi, Training, training, training!
Setelah Anda memperhatikan masing-masing “pos” untuk mendongkrak nilai konversi, jangan lupa mengamati hasilnya. Caranya, catat perkembangannya secara berkala, sebelum dan sesudah Anda menerapkan strategy diatas. Ingat, “Segala sesuatu ada ILMUNYA”.
FIGHT! J
Jaya Setiabudi
Director Y.E.A
Coach Entrepreneur Camp
Pendiri Entrepreneur Association
Email : masj@fone-mail.comAlamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Hp : 0819 818 919
ENYEBAB KEBANGKRUTAN bagian I PDF Cetak E-mail
*
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
(15 votes)
Penilaian Pengguna: / 15
BurukTerbaik
Orang bijak mengatakan,"Segala sesuatu ada ilmunya". Ingin bahagia dalam pernikahan, pelajarilah ilmu pernikahan. Ingin sukses dalam bisnispun, pelajarilah ilmunya. Apa yang terjadi jika tidak mempelajari ilmunya? Ya resiko trial-error! Repotnya juga, kalau belajar terus, kapan prakteknya? Ayo kita sekarang belajar sambil praktek. Banyak hal yang menyebabkan orang bangkrut, antara lain: di tipu orang, rugi secara operasional hingga kehabisan uang, atau pembayaran (piutang) macet.
Dua hal terakhir yang akan kita bahas, karena dua hal ini yang paling bisa kita kontrol.
5 Macam Bisnis Berdasarkan Cashflow:
1. Cashflow Harian, adalah bisnis yang menghasilkan pemasukan perhari, seperti pedagang sayur di pasar, minimarket, warung makan ataupun bisnis retail dan direct selling lainnya.
2. Cashflow Bulanan, adalah bisnis yang menghasilkan pemasukan secara berkala, mingguan atau bulanan, seperti pemasok tetap, out sourcing, rumah kos, rental mobil.
3. Cashflow Semesteran, adalah bisnis yang penghasilan maksimalnya didapat setiap 6 bulan sekali, seperti playgroup, sekolah, bimbingan belajar.
4. Cashflow Tahunan, adalah bisnis yang memberikan pendapatan tiap tahun saja, seperti rumah kontrakan, pembagian deviden.
5. Cashflow Proyek, adalah bisnis yang menghasilkan pendapatan tidak rutin (tergantung dari proyek), seperti kontraktor.
Rugi Operasional
Saya selalu menekankan pada kawan-kawan, pada saat memulai bisnis apalagi dengan keterbatasan yang ada, baik secara modal, ataupun tenaga, prioritaskan bagaimana bisa bertahan hidup. Kebanyakkan orang-orang yang mulai usaha mereka terlalu serakah untuk membuat keuntungan yang besar dengan mengabaikan kelancaran arus kas (cashflow). Saya belajar dari kebangkrutan usaha saya yang pertama kali, disebabkan kekurangan uang tunai. Dalam arti lain, profit kelihatan di kertas, tapi uangnya tidak ada. Karena menanti pembayaran yang tak kunjung 'datang', akhirnya perusahaan tidak mampu bertahan hidup, meskipun proyek-proyek besar berdatangan. Bisnis seperti ini, adalah jenis cashflow proyek atau sering kali populer dengan bisnis kontraktor. Bisnis kontraktor adalah bisnis yang sering meleset penyelesaiannya. Jika penyelesaiannya mundur, otomatis pembayarannya juga mundur. Kecuali cadangan kas anda cukup besar, maka anda masih bisa bertahan hidup, jika tidak, maka anda membutuhkan pemasukan yang bersifat harian atau bulanan. Bisnis kontraktor adalah bisnis yang paling sering diterjuni oleh pengusaha. Kenapa? Modalnya ‘lobby-lobby’, dapat proyek, untung gede! Bisnis ini cukup subur di Negara kita yang masih kental dengan budaya KKN.
Seorang sahabat saya, keluar kerja dan ingin menjadi pengusaha. Tergiur iming-iming dari kawannya tentang ‘untung gede’ dan minim tenaga di bisnis kontraktor, maka ia pun terjun bebas kesana. Dengan modal pas-pasan sekeluar dari tempat kerjanya, dia gunakan untuk membeli mobil bermerek, sebagai modal ‘lobby-lobby’. Berbekal koneksinya di dunia ‘pemerintah’, dapatlah proyek pertama pengecatan ulang gedung pemerintah senilai 100 juta rupiah. Tentu saja bukan karena sahabat saya tukang cat, lantas ia memilih pengerjaan itu. Bahkan macam-macam cat-pun baru ia mengerti saat penawaran dibuat. Tak usah khawatir dengan keahlian, cari saja tukang cat dan mandor cat. Pengerjaanpun dimulai, rencananya akan selesai dalam 2 bulan, keuntungan 30% (sudah dipotong komisi), dengan uang muka 50 % cash. Good business ya! Pengerjaan pengecatan berjalan dengan mulus. Kini saatnya menanti pelunasan yang 50 % lagi. Ia sangat berharap dengan pelunasan itu, selain dipakai untuk melunasi hutang ke kawannya guna membayar biaya tukang dan cat, juga untuk mengepulkan periuk nasi di rumahnya. Namun apa yang terjadi, janji 2 minggu pelunasan setelah proyek dikerjakan tak kunjung datang. Bahkan setelah dua bulanpun, masih belum ada tanda-tanda kehidupan. Alasannya, anggarannya belum turun dari pusat. Sambil menunggu, ia tetap berusaha mendapatkan proyek-proyek baru. Dasarnya jago lobby, eh tokcer juga. Dapatlah ia orderan yang kedua. Masalahnya, duitnya dari mana? Di jaman sekarang, semuanya serba cash belinya. Boro-boro buat mengerjakan proyek kedua, beli susu buat anak di rumah saja udah nggak ada duit. Akhirnya… Bangkrut deh! ‘Kehabisan darah’ katanya! Saya bilang,”Masih untung tidak dikejar KPK.”
(bersambung…)
FIGHT!
Jaya Setiabudi
Direktur Young Entrepreneur Academy
0819 818 919
www.yukbisnis.com
*
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
(15 votes)
Penilaian Pengguna: / 15
BurukTerbaik
Orang bijak mengatakan,"Segala sesuatu ada ilmunya". Ingin bahagia dalam pernikahan, pelajarilah ilmu pernikahan. Ingin sukses dalam bisnispun, pelajarilah ilmunya. Apa yang terjadi jika tidak mempelajari ilmunya? Ya resiko trial-error! Repotnya juga, kalau belajar terus, kapan prakteknya? Ayo kita sekarang belajar sambil praktek. Banyak hal yang menyebabkan orang bangkrut, antara lain: di tipu orang, rugi secara operasional hingga kehabisan uang, atau pembayaran (piutang) macet.
Dua hal terakhir yang akan kita bahas, karena dua hal ini yang paling bisa kita kontrol.
5 Macam Bisnis Berdasarkan Cashflow:
1. Cashflow Harian, adalah bisnis yang menghasilkan pemasukan perhari, seperti pedagang sayur di pasar, minimarket, warung makan ataupun bisnis retail dan direct selling lainnya.
2. Cashflow Bulanan, adalah bisnis yang menghasilkan pemasukan secara berkala, mingguan atau bulanan, seperti pemasok tetap, out sourcing, rumah kos, rental mobil.
3. Cashflow Semesteran, adalah bisnis yang penghasilan maksimalnya didapat setiap 6 bulan sekali, seperti playgroup, sekolah, bimbingan belajar.
4. Cashflow Tahunan, adalah bisnis yang memberikan pendapatan tiap tahun saja, seperti rumah kontrakan, pembagian deviden.
5. Cashflow Proyek, adalah bisnis yang menghasilkan pendapatan tidak rutin (tergantung dari proyek), seperti kontraktor.
Rugi Operasional
Saya selalu menekankan pada kawan-kawan, pada saat memulai bisnis apalagi dengan keterbatasan yang ada, baik secara modal, ataupun tenaga, prioritaskan bagaimana bisa bertahan hidup. Kebanyakkan orang-orang yang mulai usaha mereka terlalu serakah untuk membuat keuntungan yang besar dengan mengabaikan kelancaran arus kas (cashflow). Saya belajar dari kebangkrutan usaha saya yang pertama kali, disebabkan kekurangan uang tunai. Dalam arti lain, profit kelihatan di kertas, tapi uangnya tidak ada. Karena menanti pembayaran yang tak kunjung 'datang', akhirnya perusahaan tidak mampu bertahan hidup, meskipun proyek-proyek besar berdatangan. Bisnis seperti ini, adalah jenis cashflow proyek atau sering kali populer dengan bisnis kontraktor. Bisnis kontraktor adalah bisnis yang sering meleset penyelesaiannya. Jika penyelesaiannya mundur, otomatis pembayarannya juga mundur. Kecuali cadangan kas anda cukup besar, maka anda masih bisa bertahan hidup, jika tidak, maka anda membutuhkan pemasukan yang bersifat harian atau bulanan. Bisnis kontraktor adalah bisnis yang paling sering diterjuni oleh pengusaha. Kenapa? Modalnya ‘lobby-lobby’, dapat proyek, untung gede! Bisnis ini cukup subur di Negara kita yang masih kental dengan budaya KKN.
Seorang sahabat saya, keluar kerja dan ingin menjadi pengusaha. Tergiur iming-iming dari kawannya tentang ‘untung gede’ dan minim tenaga di bisnis kontraktor, maka ia pun terjun bebas kesana. Dengan modal pas-pasan sekeluar dari tempat kerjanya, dia gunakan untuk membeli mobil bermerek, sebagai modal ‘lobby-lobby’. Berbekal koneksinya di dunia ‘pemerintah’, dapatlah proyek pertama pengecatan ulang gedung pemerintah senilai 100 juta rupiah. Tentu saja bukan karena sahabat saya tukang cat, lantas ia memilih pengerjaan itu. Bahkan macam-macam cat-pun baru ia mengerti saat penawaran dibuat. Tak usah khawatir dengan keahlian, cari saja tukang cat dan mandor cat. Pengerjaanpun dimulai, rencananya akan selesai dalam 2 bulan, keuntungan 30% (sudah dipotong komisi), dengan uang muka 50 % cash. Good business ya! Pengerjaan pengecatan berjalan dengan mulus. Kini saatnya menanti pelunasan yang 50 % lagi. Ia sangat berharap dengan pelunasan itu, selain dipakai untuk melunasi hutang ke kawannya guna membayar biaya tukang dan cat, juga untuk mengepulkan periuk nasi di rumahnya. Namun apa yang terjadi, janji 2 minggu pelunasan setelah proyek dikerjakan tak kunjung datang. Bahkan setelah dua bulanpun, masih belum ada tanda-tanda kehidupan. Alasannya, anggarannya belum turun dari pusat. Sambil menunggu, ia tetap berusaha mendapatkan proyek-proyek baru. Dasarnya jago lobby, eh tokcer juga. Dapatlah ia orderan yang kedua. Masalahnya, duitnya dari mana? Di jaman sekarang, semuanya serba cash belinya. Boro-boro buat mengerjakan proyek kedua, beli susu buat anak di rumah saja udah nggak ada duit. Akhirnya… Bangkrut deh! ‘Kehabisan darah’ katanya! Saya bilang,”Masih untung tidak dikejar KPK.”
(bersambung…)
FIGHT!
Jaya Setiabudi
Direktur Young Entrepreneur Academy
0819 818 919
www.yukbisnis.com
PENYEBAB KEBANGKRUTAN bagian II PDF Cetak E-mail
*
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
(11 votes)
Penilaian Pengguna: / 11
BurukTerbaik
Mungkin ada dari pembaca yang menanyakan,”Kenapa tidak dituntut Pak?” Yah, menuntutpun butuh biaya pengacara, prosesnya lama, uangnya belum tentu dibayar tunai, meskipun Anda menang. Tentu saja kasus yang saya bicarakan bukan bermaksud mematahkan bisnis kontraktor. Banyak juga bisnis tipe seperti itu yang menuai keberhasilan. Hanya saja, ada persyaratan yang perlu diperhatikan oleh pemula yang akan masuk ke bisnis kontraktor. Pertama, pastikan Anda memiliki cadangan devisa atau aliran kas yang bisa membiayai operasional Anda sehari-hari sampai jangka waktu yang cukup lama, misalnya 1 tahun. Kedua, pastikan Anda memiliki sumber-sumber pembiayaan untuk mendanai proyek Anda, tanpa mengganggu periuk nasi Anda dirumah. Ketiga, alangkah lebih baiknya jika Anda memiliki pengalaman di lapangan tentang proyek-proyek terkait. Jangan hanya tergiur iming-iming profitnya semata. Ingat, sudah menjadi hukum alam, jika bisnis dengan margin besar, resiko juga pasti besar. Jika ada bisnis bermargin besar - resiko kecil, pasti banyak orang akan mengikuti jejak Anda dan marginnyapun akan jatuh kemudian. Masuk akal? Contohnya warung makan, biasanya mengambil keuntungan 100% lebih dari harga bahan baku. Mengapa? Karena resiko basi jika tidak laku!
Rumput Tetanga Kelihatan Lebih Hijau
Penyebab lain dari kebangkrutan pengusaha pemula adalah kehilangan fokus. Pada saat mereka masih berstatus sebagai karyawan, mereka nyaris tidak mengetahui apa itu peluang usaha. Namun setelah mereka terjun ke dunia usaha, ternyata lain dari apa yang mereka pernah perkirakan. Bukan hanya mereka yang bangkrut yang bermasalah, yang berhasil mengeruk keuntunganpun terkena penyakit. Namanya penyakit ‘latah’. Ya, benar, penyakit ‘latah’. Karena dia merasa berhasil dalam bisnisnya, ia pikir tangannya seperti serigala midas. Apalagi melihat rumput tetangga yang lebih hijau, melihat istri tetangga yang lebih cantik (padahal pembantunya), ehh nggak tahan godaan untuk ‘polibisnis’. “Keuntungannya gede lho!” katanya dengan nafsu. Masih ingat hukum keuntungan vs resiko? Yah benar, resikonya gede juga. Tapi bukan disitu masalahnya. Masalahnya timbul saat dia asyik menghabiskan waktu bercengrama dengan bisnis barunya. Pada saat ia meninggalkan bisnis lamanya yang baru seusia jagung dan tanpa tim yang solid untuk menjaganya, itulah pangkal kehancurannya. Tidak berhenti sampai disitu, saat bisnis keduanya mulai menurun dan membuat kerugian, keuntungan yang di bisnis barupun tergerogoti. Jika tidak bisa mengambil tindakan yang tegas dan tepat, bisnis keduanya juga akan terseret hancur dan meninggalkan hutang setumpuk.
Lha terus bagaimana cara berbisnis yang aman dari kebangkrutan? Kebangkrutan adalah suatu konsekuensi dalam bisnis, namun kita bisa menghindari jika tahu ilmunya. Pertama, jika Anda tidak memiliki cadangan devisa yang besar, apalagi mendapat bodal bisnis dari berhutang, pilihlah bisnis yang menghasilkan cashflow harian dan tidak memerlukan edukasi pasar yang lama. Meskipun marginnya tipis, jika volumenya besar, besar pula profitnya. Misalnya Anda hanya memiliki modal 10 juta rupiah, bagaimana bisa mendapatkan keuntungan yang besar dengan resiko yang kecil? Bandingkan bisnis menjual sayur di pasar dengan margin 5%, tapi pembayaran tunai. Dengan modal 10 juta rupiah (anggap terpakai semua tiap hari), Anda bisa menghasilkan keuntungan 500 ribu perhari. Jika dikali 30 hari, menghasilkan keuntungan 15 juta rupiah. Artinya, untung 150 % dari modal Anda (10 juta). Jika Anda berbisnis yang dibayar mundur 30 hari, meskipun margin Anda 50%, keuntungan Anda hanya 5 juta rupiah. Kedua, setelah cashflow harian lancar, baru carilah orderan tambahan yang menghasilkan income bulanan atau proyek. Ketiga, jangan mudah tergiur untuk diversifikasi usaha terlalu cepat, karena akan memecah fokus Anda. Percayalah, semua bisnis adalah bisnis penanaman. Artinya, semuanya butuh waktu untuk bertumbuh. Dan dibutuhkan keseriusan dalam pengelolaan untuk menghasilkan buah yang unggul.
“Rumput tetangga kelihatan lebih hijau, padahal imitasi. Istri tetangga kelihatan lebih cantik, padahal itu pembantunya. Bisnis tetangga kelihatan lebih untung, padahal sedang rugi. STAY FOCUS!”
FIGHT!
Jaya Setiabudi
Direktur Young Entrepreneur Academy
Founder Entrepreneur Association
*
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
(11 votes)
Penilaian Pengguna: / 11
BurukTerbaik
Mungkin ada dari pembaca yang menanyakan,”Kenapa tidak dituntut Pak?” Yah, menuntutpun butuh biaya pengacara, prosesnya lama, uangnya belum tentu dibayar tunai, meskipun Anda menang. Tentu saja kasus yang saya bicarakan bukan bermaksud mematahkan bisnis kontraktor. Banyak juga bisnis tipe seperti itu yang menuai keberhasilan. Hanya saja, ada persyaratan yang perlu diperhatikan oleh pemula yang akan masuk ke bisnis kontraktor. Pertama, pastikan Anda memiliki cadangan devisa atau aliran kas yang bisa membiayai operasional Anda sehari-hari sampai jangka waktu yang cukup lama, misalnya 1 tahun. Kedua, pastikan Anda memiliki sumber-sumber pembiayaan untuk mendanai proyek Anda, tanpa mengganggu periuk nasi Anda dirumah. Ketiga, alangkah lebih baiknya jika Anda memiliki pengalaman di lapangan tentang proyek-proyek terkait. Jangan hanya tergiur iming-iming profitnya semata. Ingat, sudah menjadi hukum alam, jika bisnis dengan margin besar, resiko juga pasti besar. Jika ada bisnis bermargin besar - resiko kecil, pasti banyak orang akan mengikuti jejak Anda dan marginnyapun akan jatuh kemudian. Masuk akal? Contohnya warung makan, biasanya mengambil keuntungan 100% lebih dari harga bahan baku. Mengapa? Karena resiko basi jika tidak laku!
Rumput Tetanga Kelihatan Lebih Hijau
Penyebab lain dari kebangkrutan pengusaha pemula adalah kehilangan fokus. Pada saat mereka masih berstatus sebagai karyawan, mereka nyaris tidak mengetahui apa itu peluang usaha. Namun setelah mereka terjun ke dunia usaha, ternyata lain dari apa yang mereka pernah perkirakan. Bukan hanya mereka yang bangkrut yang bermasalah, yang berhasil mengeruk keuntunganpun terkena penyakit. Namanya penyakit ‘latah’. Ya, benar, penyakit ‘latah’. Karena dia merasa berhasil dalam bisnisnya, ia pikir tangannya seperti serigala midas. Apalagi melihat rumput tetangga yang lebih hijau, melihat istri tetangga yang lebih cantik (padahal pembantunya), ehh nggak tahan godaan untuk ‘polibisnis’. “Keuntungannya gede lho!” katanya dengan nafsu. Masih ingat hukum keuntungan vs resiko? Yah benar, resikonya gede juga. Tapi bukan disitu masalahnya. Masalahnya timbul saat dia asyik menghabiskan waktu bercengrama dengan bisnis barunya. Pada saat ia meninggalkan bisnis lamanya yang baru seusia jagung dan tanpa tim yang solid untuk menjaganya, itulah pangkal kehancurannya. Tidak berhenti sampai disitu, saat bisnis keduanya mulai menurun dan membuat kerugian, keuntungan yang di bisnis barupun tergerogoti. Jika tidak bisa mengambil tindakan yang tegas dan tepat, bisnis keduanya juga akan terseret hancur dan meninggalkan hutang setumpuk.
Lha terus bagaimana cara berbisnis yang aman dari kebangkrutan? Kebangkrutan adalah suatu konsekuensi dalam bisnis, namun kita bisa menghindari jika tahu ilmunya. Pertama, jika Anda tidak memiliki cadangan devisa yang besar, apalagi mendapat bodal bisnis dari berhutang, pilihlah bisnis yang menghasilkan cashflow harian dan tidak memerlukan edukasi pasar yang lama. Meskipun marginnya tipis, jika volumenya besar, besar pula profitnya. Misalnya Anda hanya memiliki modal 10 juta rupiah, bagaimana bisa mendapatkan keuntungan yang besar dengan resiko yang kecil? Bandingkan bisnis menjual sayur di pasar dengan margin 5%, tapi pembayaran tunai. Dengan modal 10 juta rupiah (anggap terpakai semua tiap hari), Anda bisa menghasilkan keuntungan 500 ribu perhari. Jika dikali 30 hari, menghasilkan keuntungan 15 juta rupiah. Artinya, untung 150 % dari modal Anda (10 juta). Jika Anda berbisnis yang dibayar mundur 30 hari, meskipun margin Anda 50%, keuntungan Anda hanya 5 juta rupiah. Kedua, setelah cashflow harian lancar, baru carilah orderan tambahan yang menghasilkan income bulanan atau proyek. Ketiga, jangan mudah tergiur untuk diversifikasi usaha terlalu cepat, karena akan memecah fokus Anda. Percayalah, semua bisnis adalah bisnis penanaman. Artinya, semuanya butuh waktu untuk bertumbuh. Dan dibutuhkan keseriusan dalam pengelolaan untuk menghasilkan buah yang unggul.
“Rumput tetangga kelihatan lebih hijau, padahal imitasi. Istri tetangga kelihatan lebih cantik, padahal itu pembantunya. Bisnis tetangga kelihatan lebih untung, padahal sedang rugi. STAY FOCUS!”
FIGHT!
Jaya Setiabudi
Direktur Young Entrepreneur Academy
Founder Entrepreneur Association
Selasa, 22 September 2009
Modal Bisnis Laundry Kiloan
Posted by kartikasari08 in accounting, enterpreneur. Tagged: bisnis laundry kiloan, modal bisnis laundry kiloan, modal usaha, modal usahal laundri kiloan, peluang usaha modal kecil. 29 Comments
Kebutuhan Bisnis Laundry Kecil Sedang
Biaya Tetap
Sewa tempat rumah sendiri - sewa +/- 1 th (bervariasi) 4,000,000
Peralatan
Mesin Cuci kapasitas 5-7 kg ( cicilan) /bln 1 unit Electrolux (2th) 292,000 /bln 2 unit Electrolux (2th) 584,000
Setrika 2 unit 140,000 3 unit Phillips 450,000
Pengering ( cicilan) sinar matahari - /bln 1 unit Electrolux/ Modena (2th) 292,000
timbangan 1 unit 100,000 1 unit 100,000
Kendaraan/ Motor ( cicilan) milik sendiri - Cicilan /bln 350,000
Total Biaya Tetap 532,000 5,776,000
Biaya Variabel
Bahan Baku
Sabun 900 gr @35000 utk 60 kg baju 10 bh 350,000 20 bh 700,000
Pewangi 1L @ 15000 10 bh 15,000 20 bh 30,000
Plastik 1 paket 50,000 2 paket 100,000
ATK 50,000 100,000
Promosi 200,000 300,000
bensin 30 hari @ 5.000 150,000 30 hari @ 10.000 300,000
Telepon 50,000 75,000
Listrik 200,000 400,000
Biaya lain-lain 100,000 200,000
Maintenance 150,000 300,000
Tenaga kerja @500.000 2 orang 1,000,000 3 orang 1,500,000
Total Biaya Variabel 2,315,000 4,005,000
Total Modal Awal 2,847,000 9,781,000
Target order tiap hari mencapai 20 kg
Estimasi order 1 bulan = 30 x 20 kg = 600 kg
Target Pendapatan = 600 kg x Rp 5000 3,000,000
Biaya Bulanan
Biaya Variabel 2,315,000
Biaya tetap yang dicicil 292,000
Total biaya yang dikeluarkan per bulan 2,607,000
Laba per bulan 393,000
Target order tiap hari mencapai 40 kg
Estimasi order 1 bulan = 30 x 40 kg = 1200 kg
Target Pendapatan = 1200 kg x Rp 5000 6,000,000
Biaya Variabel 4,005,000
Biaya tetap yang dicicil 1,226,000
5,231,000
Laba per bulan 769,000
Selanjutnya, coba kita analisis kelayakan bisnis ini secara sederhana dari hasil hitungan diatas
Return On Investment (ROI) merupakan alat pengukuran prestasi yang digunakan untuk menilai
seberapa besar tingkat pengembalian yang dapat diperoleh dari investasi bisnis laundry kiloan ini,
jika nilai positif (+) maka bisnis ini menguntungkan
sedangkan Payback Periode (PP) digunakan untuk menghitung periode yang diperlukan untuk menutup
kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan cash flow.
Modal Kecil
ROI = (Laba/ Investasi) X 100%
(393.000 / 2.847.000) X 100% = 13.80%
Payback Period ( Investasi/Laba)
PP = (2.847.000 / 393.000) = 8 bulan
dan dalam 2 thn kedepan asset akan bertambah berupa mesin cuci senilai 5 jutaan
Modal Sedang
ROI = (Laba/ Investasi) X 100%
(769.000 /9.781.000) X 100% = 7.86%
Payback Period ( Investasi/Laba)
PP = (9.781.000 / 769.000) = 13 bulan
dan dalam 2 thn kedepan asset akan bertambah berupa mesin cuci dan pengering senilai 15 jutaan
Melanjutkan tulisanku tentang Bisnis Plan Laundry Kiloan dan menimbang banyaknya comment yang menanyakan modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ini. Saya mencoba mengilustrasikan seperti diatas, yang merupakan gambaran kemungkinan modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis laundry kiloan (jika ada masukan, dengan senang hati akan ditampung) tapi tentunya ilustrasi diatas bukanlah hal mutlak, bisa bervariasi tergantung pilihan dan kreatifitas Anda sebagai entrepreneur. Semoga tulisan sederhana ini bisa membantu dan memacu semangat teman-teman untuk memulai bisnis ini.. mengingat modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar dan cukup menjanjikan sebagai tambahan pemasukan.. Semoga sukses!!!
29 Responses to this post.
1.
Posted by Bisnis Plan Laundry Kiloan « Send you to my World on January 5, 2009 at 1:04 am
[...] perhitungan modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis laundry ini, bisa dilihat di postingan Modal memulai bisnis laundry kiloan. Possibly related posts: (automatically generated)Keajaiban Kasih Karunia TuhanHukum Ke-10 [...]
Reply
2.
Posted by RIZKI EKA PUTRA on January 7, 2009 at 6:07 am
TERIMAKASIH ATAS URAIANNYA PAK
Reply
Posted by kartikasari08 in accounting, enterpreneur. Tagged: bisnis laundry kiloan, modal bisnis laundry kiloan, modal usaha, modal usahal laundri kiloan, peluang usaha modal kecil. 29 Comments
Kebutuhan Bisnis Laundry Kecil Sedang
Biaya Tetap
Sewa tempat rumah sendiri - sewa +/- 1 th (bervariasi) 4,000,000
Peralatan
Mesin Cuci kapasitas 5-7 kg ( cicilan) /bln 1 unit Electrolux (2th) 292,000 /bln 2 unit Electrolux (2th) 584,000
Setrika 2 unit 140,000 3 unit Phillips 450,000
Pengering ( cicilan) sinar matahari - /bln 1 unit Electrolux/ Modena (2th) 292,000
timbangan 1 unit 100,000 1 unit 100,000
Kendaraan/ Motor ( cicilan) milik sendiri - Cicilan /bln 350,000
Total Biaya Tetap 532,000 5,776,000
Biaya Variabel
Bahan Baku
Sabun 900 gr @35000 utk 60 kg baju 10 bh 350,000 20 bh 700,000
Pewangi 1L @ 15000 10 bh 15,000 20 bh 30,000
Plastik 1 paket 50,000 2 paket 100,000
ATK 50,000 100,000
Promosi 200,000 300,000
bensin 30 hari @ 5.000 150,000 30 hari @ 10.000 300,000
Telepon 50,000 75,000
Listrik 200,000 400,000
Biaya lain-lain 100,000 200,000
Maintenance 150,000 300,000
Tenaga kerja @500.000 2 orang 1,000,000 3 orang 1,500,000
Total Biaya Variabel 2,315,000 4,005,000
Total Modal Awal 2,847,000 9,781,000
Target order tiap hari mencapai 20 kg
Estimasi order 1 bulan = 30 x 20 kg = 600 kg
Target Pendapatan = 600 kg x Rp 5000 3,000,000
Biaya Bulanan
Biaya Variabel 2,315,000
Biaya tetap yang dicicil 292,000
Total biaya yang dikeluarkan per bulan 2,607,000
Laba per bulan 393,000
Target order tiap hari mencapai 40 kg
Estimasi order 1 bulan = 30 x 40 kg = 1200 kg
Target Pendapatan = 1200 kg x Rp 5000 6,000,000
Biaya Variabel 4,005,000
Biaya tetap yang dicicil 1,226,000
5,231,000
Laba per bulan 769,000
Selanjutnya, coba kita analisis kelayakan bisnis ini secara sederhana dari hasil hitungan diatas
Return On Investment (ROI) merupakan alat pengukuran prestasi yang digunakan untuk menilai
seberapa besar tingkat pengembalian yang dapat diperoleh dari investasi bisnis laundry kiloan ini,
jika nilai positif (+) maka bisnis ini menguntungkan
sedangkan Payback Periode (PP) digunakan untuk menghitung periode yang diperlukan untuk menutup
kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan cash flow.
Modal Kecil
ROI = (Laba/ Investasi) X 100%
(393.000 / 2.847.000) X 100% = 13.80%
Payback Period ( Investasi/Laba)
PP = (2.847.000 / 393.000) = 8 bulan
dan dalam 2 thn kedepan asset akan bertambah berupa mesin cuci senilai 5 jutaan
Modal Sedang
ROI = (Laba/ Investasi) X 100%
(769.000 /9.781.000) X 100% = 7.86%
Payback Period ( Investasi/Laba)
PP = (9.781.000 / 769.000) = 13 bulan
dan dalam 2 thn kedepan asset akan bertambah berupa mesin cuci dan pengering senilai 15 jutaan
Melanjutkan tulisanku tentang Bisnis Plan Laundry Kiloan dan menimbang banyaknya comment yang menanyakan modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ini. Saya mencoba mengilustrasikan seperti diatas, yang merupakan gambaran kemungkinan modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis laundry kiloan (jika ada masukan, dengan senang hati akan ditampung) tapi tentunya ilustrasi diatas bukanlah hal mutlak, bisa bervariasi tergantung pilihan dan kreatifitas Anda sebagai entrepreneur. Semoga tulisan sederhana ini bisa membantu dan memacu semangat teman-teman untuk memulai bisnis ini.. mengingat modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar dan cukup menjanjikan sebagai tambahan pemasukan.. Semoga sukses!!!
29 Responses to this post.
1.
Posted by Bisnis Plan Laundry Kiloan « Send you to my World on January 5, 2009 at 1:04 am
[...] perhitungan modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis laundry ini, bisa dilihat di postingan Modal memulai bisnis laundry kiloan. Possibly related posts: (automatically generated)Keajaiban Kasih Karunia TuhanHukum Ke-10 [...]
Reply
2.
Posted by RIZKI EKA PUTRA on January 7, 2009 at 6:07 am
TERIMAKASIH ATAS URAIANNYA PAK
Reply
Bisnis Plan Laundry Kiloan
Posted by kartikasari08 in enterpreneur. Tagged: bisnis plan laundry, laundry kiloan, sukses bisnis laundry. 184 Comments
OVERVIEW
Cukup banyak yang tertarik dengan Bisnis Laundry Kiloan saat ini, mungkin bisnis plan untuk bisnis laundry kecil-kecilan ini bisa dijadikan referensi tambahan..
Bisnis laundry merupakan bisnis yang mengandalkan jasa. Sehingga sangat penting untuk berorientasi pada kepuasan pelanggan. Mendapatkan pelanggan yang loyal merupakan suatu keberhasilan bagi bisnis ini .
Perlu untuk di ketahui fundamental dari bisnis ini secara professional. Apa saja jasa yang akan diberikan, siapa saja target customernya, siapa saja yang menjadi pemilik, berapa biaya yang dibutuhkan.
Produk dan jasa :
* Jasa cuci
* Jasa cuci & kering
* Jasa Cuci, kering, & setrika
* Layanan antar jemput
Nilai tambah yang bisa diberikan:
* Menggunakan sabun bermutu baik
* pewangi pakaian tahan lama
* hasil cucian bersih, pemisahan baju putih dan berwarna
* cucian tidak dicampur dengan orang lain
* control terhadap kepemilikan baju yang baik, sehingga tidak ada baju yang hilang
* Perawatan warna baju yang baik
* Discount untuk pelanggan
* Discount untuk 10 kali cuci.
MARKETING PLAN
Perlu untuk dilakukan survey kecil-kecilan terhadap pangsa pasarnya seperti profesi penduduk disekitar lokasi, umur, penghasilan rata-rata, pendidikan, karakteristik konsumen.
Survey bisa dilakukan secara langsung dan juga berdasar data-data sekunder untuk melihat seberapa besar pangsa pasar bisnis ini, dan mencari kemungkinan untuk di kembangkan.
Bisnis ini paling baik berlokasi yang dekat dengan kos-kosan mahasiswa, rumah sewa karyawan/ karyawati, salon, juga perumahan.
Buat juga apa saja yang menjadi competitor untuk bisnis ini misal jasa cuci bulanan, laundry & dry clean. Buatlah list competitor, selanjutnya analisis kelebihan dan kekurangannya. Dari hasil tersebut dapat dijadikan dasar untuk bersaing yang baik.
Selanjutnya perencanaan promosi bisnis agar orang-orang tau ini loh jasa yang bisa kita berikan. Misal dengan membuat leaflet, pamflet, promosi dari mulut ke mulut, spanduk, radio, arisan,. Tetapkan juga nominal budget promosi, seberapa sering dan cara yang paling efektif untuk menunjang bisnis secara konsisten.
PRICING STRATEGY
Perlu juga diamati apakah pangsa pasar yang ada berorientasi pada kualitas produk atau pada harga. Bandingkan pula dengan harga kompetitor.
Penetapan harga yang terlalu rendah belum tentu baik, karena tidak semua orang perduli dengan harga yang murah selain itu keuntungan menjadi sangat tipis. Salah salah malah dibilang murahan. Lebih baik memberikan harga rata-rata dengan kualitas baik.
OPERATIONAL PLAN
Buatlah Prosedur tetap:
* Pencucian pakaian mulai dari takaran sabun, pewangi, pengendalian kepemilikan baju, pembungkusan.
* Pencucian boneka, bedcover dll.
* Kartu Langganan
Susunlah peralatan-peralatan dengan efektif dan seefisien mungkin, untuk menghemat waktu pengerjaan, nyaman dan enak dipandang.
Rincikan kebutuhan peralatan dan bahan penunjang seperti mesin cuci, timbangan, pengering, setrika, listrik yang menunjang, telepon, dan bahan habis pakai lainnya.
Tetapkan kebutuhan minimal bahan habis pakai sebelum memesan kembali ke supplier.
Rekrutlah karyawan yang kompeten serta berikan pelatihan yang memadai. Karyawan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan bisnis. Rancanglah system penggajian yang adil dan sesuai dengan beban kerja. Berikan bonus jika omset meningkat, karena hal ini dapat meningkatkan semangat kerja karyawan untuk memberikan yang terbaik.
Carilah supplier terbaik yang dapat diandalkan untuk menunjang kelancaran bisnis, terus menerus melakukan improvement disisi supplier merupakan suatu keuntungan.
BEGINNING FINANCIAL REPORT
Neraca digunakan untuk melihat kondisi kekayaan perusahaan pada tanggal neraca.
Pentingnya membuat neraca awal agar dapat dibandingkan dengan kondisi yang akan datang. Untuk mengetahui perubahan struktur kekayaan perusahaan.
Neraca
Aktiva = Pasiva
AKTIVA PASIVA
Aktiva Lancar Utang
Kas xx Utang jangka pendek xx
Bank xx Utang jangka panjang xx
Sediaan Barang xx
Piutang Usaha xx
Total Aktiva Lancar A Total Utang C
Aktiva Tetap Modal
Peralatan xx Modal A xx
Kendaraan xx Modal B xx
Gedung xx
Tanah xx
Total Aktiva Tetap B Total Modal D
Total Aktiva A+B Total Pasiva C+D
Laporan Laba Rugi fungsinya untuk mengetahui besarnya laba/ rugi yang diperoleh dari suatu bisnis, biasanya laporan ini dibuat bulanan.
Format Laporan Laba Rugi :
Pendapatan:
Penjualan kotor
Harga Pokok Penjualan
Penjualan Bersih
Pendapatan lain-lain
xx
(xx)+
xx
xx +
Total Pendapatan
A
Pengeluaran:
* Biaya Gaji
* Biaya sewa
* Tenaga kerja tidak langsung
* ATK
* Maintenance
* Promosi
* Sewa kendaraan
* Sewa tempat
* Telepon
* Perlengkapan
* Asuransi
* Pajak
* Depresiasi
* Cicilan
* Bunga
* Biaya lain-lain
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx +
Total Pengeluaran
B
Laba/Rugi
A-B
Membuat estimasi laporan laba rugi dalam 1 tahun dapat dijadikan target pencapaian bisnis.
BREAK EVEN POINT
Break Even Point merupakan estimasi kasar untuk menghitung berapa lama modal yang dikeluarkan akan kembali.
Rumus nya:
Total Pendapatan = Total Pengeluaran
(Harga Jual x Qty) = (Biaya tetap + biaya variabel)
Estimasi dalam 1 bulan:
Qty = 10 kg x 30 hari = 300 kg
Harga = 300 kg x Rp 5000 = Rp 1.500.000
Biaya Variabel = Rp 1.000.000
Biaya Tetap = Rp 15.000.000
Estimasi BEP
= Total Biaya Tetap / (Penjualan – Biaya Variabel)
= Rp 15.000.000 / (1.500.000 – Rp 1.000.000)
= 30 bulan atau 2 tahun 4 bulan
Biaya Variabel merupakan biaya yang bertambah jika kuantitas penjualan atas suatu produk bertambah.
Contoh biaya variabel pada bisnis laundry:
* - Sabun
* - Pewangi
* - Tenaga kerja langsung
* - Pembungkusan
Biaya Tetap merupakan biaya yang tetap dan tidak terpengaruh dengan kuantitas penjualan atas suatu produk.
Contoh biaya tetap pada bisnis laundry:
* - Peralatan
* - Tenaga kerja tidak langsung
* - ATK
* - Maintenance
* - Promosi
* - Sewa kendaraan
* - Sewa tempat
* - Telepon
* - Perlengkapan
* - Asuransi
* - Pajak
* - Depresiasi
* - Biaya lain-lain
* - Cicilan
* - Bunga
untuk melihat ilustrasi sederhana perhitungan modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis laundry ini, bisa dilihat di postingan Modal memulai bisnis laundry kiloan.
Possibly related posts: (automatically generated)
* Cara Mengatur Keuangan di Masa Sulit
* Keajaiban Kasih Karunia Tuhan
* Hukum Ke-10 Memba
Posted by kartikasari08 in enterpreneur. Tagged: bisnis plan laundry, laundry kiloan, sukses bisnis laundry. 184 Comments
OVERVIEW
Cukup banyak yang tertarik dengan Bisnis Laundry Kiloan saat ini, mungkin bisnis plan untuk bisnis laundry kecil-kecilan ini bisa dijadikan referensi tambahan..
Bisnis laundry merupakan bisnis yang mengandalkan jasa. Sehingga sangat penting untuk berorientasi pada kepuasan pelanggan. Mendapatkan pelanggan yang loyal merupakan suatu keberhasilan bagi bisnis ini .
Perlu untuk di ketahui fundamental dari bisnis ini secara professional. Apa saja jasa yang akan diberikan, siapa saja target customernya, siapa saja yang menjadi pemilik, berapa biaya yang dibutuhkan.
Produk dan jasa :
* Jasa cuci
* Jasa cuci & kering
* Jasa Cuci, kering, & setrika
* Layanan antar jemput
Nilai tambah yang bisa diberikan:
* Menggunakan sabun bermutu baik
* pewangi pakaian tahan lama
* hasil cucian bersih, pemisahan baju putih dan berwarna
* cucian tidak dicampur dengan orang lain
* control terhadap kepemilikan baju yang baik, sehingga tidak ada baju yang hilang
* Perawatan warna baju yang baik
* Discount untuk pelanggan
* Discount untuk 10 kali cuci.
MARKETING PLAN
Perlu untuk dilakukan survey kecil-kecilan terhadap pangsa pasarnya seperti profesi penduduk disekitar lokasi, umur, penghasilan rata-rata, pendidikan, karakteristik konsumen.
Survey bisa dilakukan secara langsung dan juga berdasar data-data sekunder untuk melihat seberapa besar pangsa pasar bisnis ini, dan mencari kemungkinan untuk di kembangkan.
Bisnis ini paling baik berlokasi yang dekat dengan kos-kosan mahasiswa, rumah sewa karyawan/ karyawati, salon, juga perumahan.
Buat juga apa saja yang menjadi competitor untuk bisnis ini misal jasa cuci bulanan, laundry & dry clean. Buatlah list competitor, selanjutnya analisis kelebihan dan kekurangannya. Dari hasil tersebut dapat dijadikan dasar untuk bersaing yang baik.
Selanjutnya perencanaan promosi bisnis agar orang-orang tau ini loh jasa yang bisa kita berikan. Misal dengan membuat leaflet, pamflet, promosi dari mulut ke mulut, spanduk, radio, arisan,. Tetapkan juga nominal budget promosi, seberapa sering dan cara yang paling efektif untuk menunjang bisnis secara konsisten.
PRICING STRATEGY
Perlu juga diamati apakah pangsa pasar yang ada berorientasi pada kualitas produk atau pada harga. Bandingkan pula dengan harga kompetitor.
Penetapan harga yang terlalu rendah belum tentu baik, karena tidak semua orang perduli dengan harga yang murah selain itu keuntungan menjadi sangat tipis. Salah salah malah dibilang murahan. Lebih baik memberikan harga rata-rata dengan kualitas baik.
OPERATIONAL PLAN
Buatlah Prosedur tetap:
* Pencucian pakaian mulai dari takaran sabun, pewangi, pengendalian kepemilikan baju, pembungkusan.
* Pencucian boneka, bedcover dll.
* Kartu Langganan
Susunlah peralatan-peralatan dengan efektif dan seefisien mungkin, untuk menghemat waktu pengerjaan, nyaman dan enak dipandang.
Rincikan kebutuhan peralatan dan bahan penunjang seperti mesin cuci, timbangan, pengering, setrika, listrik yang menunjang, telepon, dan bahan habis pakai lainnya.
Tetapkan kebutuhan minimal bahan habis pakai sebelum memesan kembali ke supplier.
Rekrutlah karyawan yang kompeten serta berikan pelatihan yang memadai. Karyawan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan bisnis. Rancanglah system penggajian yang adil dan sesuai dengan beban kerja. Berikan bonus jika omset meningkat, karena hal ini dapat meningkatkan semangat kerja karyawan untuk memberikan yang terbaik.
Carilah supplier terbaik yang dapat diandalkan untuk menunjang kelancaran bisnis, terus menerus melakukan improvement disisi supplier merupakan suatu keuntungan.
BEGINNING FINANCIAL REPORT
Neraca digunakan untuk melihat kondisi kekayaan perusahaan pada tanggal neraca.
Pentingnya membuat neraca awal agar dapat dibandingkan dengan kondisi yang akan datang. Untuk mengetahui perubahan struktur kekayaan perusahaan.
Neraca
Aktiva = Pasiva
AKTIVA PASIVA
Aktiva Lancar Utang
Kas xx Utang jangka pendek xx
Bank xx Utang jangka panjang xx
Sediaan Barang xx
Piutang Usaha xx
Total Aktiva Lancar A Total Utang C
Aktiva Tetap Modal
Peralatan xx Modal A xx
Kendaraan xx Modal B xx
Gedung xx
Tanah xx
Total Aktiva Tetap B Total Modal D
Total Aktiva A+B Total Pasiva C+D
Laporan Laba Rugi fungsinya untuk mengetahui besarnya laba/ rugi yang diperoleh dari suatu bisnis, biasanya laporan ini dibuat bulanan.
Format Laporan Laba Rugi :
Pendapatan:
Penjualan kotor
Harga Pokok Penjualan
Penjualan Bersih
Pendapatan lain-lain
xx
(xx)+
xx
xx +
Total Pendapatan
A
Pengeluaran:
* Biaya Gaji
* Biaya sewa
* Tenaga kerja tidak langsung
* ATK
* Maintenance
* Promosi
* Sewa kendaraan
* Sewa tempat
* Telepon
* Perlengkapan
* Asuransi
* Pajak
* Depresiasi
* Cicilan
* Bunga
* Biaya lain-lain
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx +
Total Pengeluaran
B
Laba/Rugi
A-B
Membuat estimasi laporan laba rugi dalam 1 tahun dapat dijadikan target pencapaian bisnis.
BREAK EVEN POINT
Break Even Point merupakan estimasi kasar untuk menghitung berapa lama modal yang dikeluarkan akan kembali.
Rumus nya:
Total Pendapatan = Total Pengeluaran
(Harga Jual x Qty) = (Biaya tetap + biaya variabel)
Estimasi dalam 1 bulan:
Qty = 10 kg x 30 hari = 300 kg
Harga = 300 kg x Rp 5000 = Rp 1.500.000
Biaya Variabel = Rp 1.000.000
Biaya Tetap = Rp 15.000.000
Estimasi BEP
= Total Biaya Tetap / (Penjualan – Biaya Variabel)
= Rp 15.000.000 / (1.500.000 – Rp 1.000.000)
= 30 bulan atau 2 tahun 4 bulan
Biaya Variabel merupakan biaya yang bertambah jika kuantitas penjualan atas suatu produk bertambah.
Contoh biaya variabel pada bisnis laundry:
* - Sabun
* - Pewangi
* - Tenaga kerja langsung
* - Pembungkusan
Biaya Tetap merupakan biaya yang tetap dan tidak terpengaruh dengan kuantitas penjualan atas suatu produk.
Contoh biaya tetap pada bisnis laundry:
* - Peralatan
* - Tenaga kerja tidak langsung
* - ATK
* - Maintenance
* - Promosi
* - Sewa kendaraan
* - Sewa tempat
* - Telepon
* - Perlengkapan
* - Asuransi
* - Pajak
* - Depresiasi
* - Biaya lain-lain
* - Cicilan
* - Bunga
untuk melihat ilustrasi sederhana perhitungan modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis laundry ini, bisa dilihat di postingan Modal memulai bisnis laundry kiloan.
Possibly related posts: (automatically generated)
* Cara Mengatur Keuangan di Masa Sulit
* Keajaiban Kasih Karunia Tuhan
* Hukum Ke-10 Memba
Langganan:
Postingan (Atom)